SEBUAH HARAPAN
Oleh: Satih Saidiyah
Seandainya Indonesia tidak bergolak pada tahun ini, mungkinkah kita sudah siap pula meninggalkan abad dua puluh? Pertanyaan seputar peningkatan kualitas sumber daya manusia, penunjang pendidikan dan segala macam proses pencapaian kemajuan di berbagai bidang. Haruskah dibungkam sementara waktu berhadapan dengan krisis dan terpuruknya ekonomi Indonesia?
Kalau kita telusuri sejenak rangkaian peristiwa akan terhenti pada sosok wanita Indonesia. Tanah air kita yang telah melahirkan kemajmukan sikap dan pribadi wanita. Dan ternyata kegagalan pembangunan di tanah airpun tidak lepas dari wanita. Dalam sebuah hadis, Rasulallah
SAW, bersabda:
Berangkat dari hadits di atas seharusnya kita mulai berfikir untuk kembali melirik kaum wanita dalam proses rehabilitasi dan reformasi di tanah air. Dari mana kita akan memulai pembenahan ini kalau tidak dari wanita. Dalam setiap kesuksesan pastilah di situ berdiri seorang wanita.
Kita pun bersyukur meskipun kebebasan tidak diberikan pada wanita. Namun masyarakat Indonesia khususnya telah banyak memberikan kesempatan yang sama untuk wanita dalam proses pendidikan dan mengaktualisasikan diri. Sayangnya konsep pendidikan androgini (konsep pendidikan yang sama antara wanita dan pria yang piawai di dalam dan di luar rumah), belum banyak diterapkan oleh keluarga di Indonesia. Sehingga ketika suatu kesempatan yang besar datang untuk kemajuan wanita, kecenderungan asertif masih mendominasi di kalangan mereka sendiri.
Wanita adalah suatu institusi yang apabila dipersiapkan dengan manajemen yang canggih sudah pasti akan lahir generasi-generasi yang madani. Namun begitu ia juga makhluk yang bebas sehingga sentuhan akhlak, budi pekerti dan tujuan pendidikan betu-betul harus diterapkan pada awal langkah perjuangannya. Kemana, untuk apa dan untuk siapa mereka belajar? Mendidik wanita berarti membentuk suatu generasi.
Kondisi pendidikan yang buruk akan berakibat pula mundurnya generasi. Dengan demikian, wanita dengan tugasnya sebagai ibu, istri, perekat hubungan masyarakat dan keluarga dibekali dengan kemampuan, skill dan kemampuan untuk mensikapi lingkungan dalam kondisi apapun. Yang semua itu akan mengantarkan wanita oada sosok sayyidatul kull atau wanita multifungsi.
Persoalannya, saat ini adalah siapa yang akan membimbing dan mengubah kondisi yang telah mengakar dalam pola pikir kita bahwa wanita hanya sebagai koncowingking. Dan yang kedua, siapkah kita menghilangkan "woman movement phobia?" Haruskah emansipasi, feminisme dan gerakan wanita selalu diartikan keluar dari jalur kodratinya dan memporak-porandakan suatu bangunan rumah tangga.
Menciptakan masyarakat madani melalui generasi harapan bukanlah imajinasi atau mimpi di siang bolong bila cita-cita itu dibarengi dengan program pencapaian yang rasional. Sangatlah kompleks berbicara tentang pembenahan di Indonesia. Think globally, act locally, itulah alternatif terdekat. Sementara kita sendiri mempunyai Indonesian Society yang bisa kita garap. Memulai dari diri kita sendiri itulah jawabannya. Bagaimana dengan anda?